Showing posts with label renungan jiwa. Show all posts
Showing posts with label renungan jiwa. Show all posts

Thursday, January 19

SURAT CINTA

Surat Cinta
Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis
Bagai bunyi tambur mainan
Anak-anak peri dunia yang gaib
Dan angin mendesah,
Wahai, dik Narti
Aku cinta padamu !
Kutulis surat ini
Kala langit menangis
Dan dua ekor belibis
Bercintaan di dalam kolam
Bagai dua anak nakal
Jenaka dan manis
Mengibaskan ekor,
Serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, dik Narti, Kupinang kau menjadi istriku !
Kaki-kaki hujan yang runcing
Menyentuh ujungnya bumi.
Kaki-kaki cinta yang tegas
Bagai logam berat gemerlapan
Menembus ke muka
Dan tak kan kunjung diundurkan.
......................................................
Engkau adalah putri duyung
Tawananku.
Putri duyung dengan
Suara merdu lembut
Bagai angin laut,
Mendesahkan bagiku !
Angin mendesah
Selalu mendesah
Dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
Tergolek lemas
Mengejap-ngejapkan matanya yang indah
Dalam jaringku.
Wahai, putri duyung,
Aku menjaringmu,
Aku melamarmu.
Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis
Karena langit
Gadis manja dan manis
Menangis meminta mainan
Dua anak lelaki nakal
Bersenda gurau dalam selokan
................................................
 
WS. Rendra
                                                                                (Empat Kumpulan Sajak, 1961)

Sunday, May 31

Cinta Tak Pernah Menyadari Hadirnya Sebuah Pengorbanan

Namanya adalah Cinta, satu hal yang telah dialami oleh beberapa insan di segala penjuru dunia. Ia tak pernah secara terbuka menunjukkan wujudnya secara nyata, namun hadirnya mampu membuat setiap anak Adam merasa bahagia karenanya. Dengan angkuh, ia menghampiri hati seseorang tanpa ijin dan permisi, seolah semua orang telah siap dengan kedatangannya.

Dan secara tak langsung perasaan yang tak pernah diketahui kapan datangnya ini berhasil menjadikan mereka sebagai insan yang memiliki warna dalam kehidupan. Cinta memang indah, namun tak semua kisahnya selalu disertai keindahan yang mutlak sebagai sebuah jaminan di dalamnya.

Namun, apa yang lebih baik dalam kata mencinta selain sebuah pengorbanan di dalamnya? Karena Cinta, beberapa orang rela berkorban demi menunjukkan dan mengutarakan isi hati mereka kepada sang pujaan hati. Padahal, pengorbanan bukanlah komposisi utama dalam Cinta, dan kita paham benar hal itu. Hanya saja, pengorbanan yang mereka lakukan tanpa disadari telah menjadi kebutuhan dan kepuasan tersendiri.
Jauh di sisi itu, seorang pria telah lahir dan diciptakan dengan hati yang begitu lembut. Dan pada akhirnya pun, ia telah menjadi 'korban' yang dipilih oleh sang Cinta untuk berpijak. Ia tak kuasa menolaknya, tak ada waktu untuk melakukan hal tersebut. Ia merasakan, menikmati dan menjunjung tinggi nama sang Cinta, tanpa ia sadari bahwa Cinta yang ada di hatinya telah menjadikannya seorang budak.

Dalam jalannya roda cinta yang ia kayuh membuat ia mengerti bagaimana cara untuk membuat cinta yang ia rasakan menjadi sesuatu yang istimewa. Tak muluk-muluk, apa yang ia lakukan pada akhirnya akan tetap berkesan dan mengena di hati.

Cinta yang ia rasakan mungkin tak seindah kisah yang dialami oleh beberapa orang di sekitarnya. Namun satu yang ia sadari, cinta yang akan ia berikan akan melebihi apapun di dunia ini.

Saturday, July 13

PERSEMBAHAN UNTUK SANG PENCIPTA




Jika Tuhan punya akun di dunia maya, tentu aku akan selalu mention Dia, juga memberikan surel/email untuk berkata setiap hari, “Tuhan, tidak ada yang kupersembahkan untukMu  hari ini  kecuali seluruh dosaku.

Setiap kebaikan akan selalu kembali kepada Tuhan, dan dosa  adalah  hak setiap manusia. Bagaimana  kita mampu  memberikan apa yang  TIDAK  kita miliki?

Aku melihat, terkadang manusia sombong. Mereka merasa setiap kebaikan  yang  mereka lakukan mampu membayar  apa  yang  telah Tuhan berikan. Sekali-kali tidak. Setiap kebaikan yang kita lakukan tidak akan pernah mampu  membayarnya, bahkan untuk setiap napas normal yang kita lakukan setiap hari. Bahkan tidak mampu membayar untuk setiap pergantian kulit setiap harinya.

Apa yang manusia miliki sebenarnya adalah dosa. Maka itu pula yang mampu aku  persembahkan  kepada Tuhan.

Saturday, September 29

CINTA ..... ? ( RABIATUL ADAWIYAH )

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.
 
Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.
 
Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”
 
Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.
 
Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
 
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
 
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
 
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
 
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.
 
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.
 
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka
 
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
 
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
 
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.
 
Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
 
Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.
 
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.
 
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.
 
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !
 
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
 
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka
 
Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.
 
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya
 
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
 
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.
 
Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.
 
Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.

Saturday, December 17

KEMBANG TERASING

  • Kita seumpama malam-malam tanpa api yang kita hendak memeluk-meluk sepi yang kita hendak merenda-renda mimpi seumpama kita datang dari dunia tanpa puisi Kau, seumpama kembang terasing di pulau asing sementara aku seperti kumbang asing di pulau terasing kau dan aku suka sekali menanam rindu menyemai debar-debar lewat getar suara tak dikenal Terkadang kita mampu menitip kabar lewat angin lewat celah-celah mimpi tanpa judul entah mengapa pesan sering tak sampai padahal badai tak menyapa sampan Yang pasti, aku tak pernah ragu pada lekuk jejakmu tak pernah bimbang pada liuk senyummu yang kau patri di dinding-dinding hatiku setiap malam meski tanpa api Maka, kunanti saja kau hingga nanti waktu yang telah kita tetapkan janji

Cinta Tertunda

Cintamu menunda hadirnya di hatiku kemarin kau hanya mengirim hujan, selembar salam dan seuntai teka-teki ini kali pertama aku menanti ya sudi menanti sebab cintamu memang teka-teki yang harus kupecahkan di dingin malam tentu saja tanpa kamu Apa sebab kau memintaku menunggu? tentu bukan karena kau merubah haluan hatimu kan? atau ada kelebat lain yang lebih gagah dari pada aku? atau ada khilafku yang menyembilu di tepi hatimu mungkin aku tak menyediakan waktu untuk menangis cintamu hanya tertunda datangnya tak dapat diterka mungkin cintamu tersangkut di hati yang berenda atau aku yang tak merasakan hadirnya? Cinta tertunda menyimpan sebingaki tanya.. atau sebongkah luka?

sebab

sebab aku adalah puing-puing yang hancur sebab aku adalah getar-getar yang tak mendebar sebab aku terdampar sebab aku terombang ambing dan selanjutnya sebab aku sebab sebab kau adalah dermaga sebab kau adalah ombak yang menampar sebab kau adalah petir yang menyambar dan seterusnya sebab kau sebab sebab kita adalah kapal dan lautan yang luas sebab kita adalah pepasir dan tetumbuhan pelipur dahaga sebab kau pelipur dukaku sebab pantaiku sepi tanpa perahumu sebab bungaku menunggu petikmu sebab bibirmu menunggu ucapku sebab kau sebab aku sebab kita

Monday, December 12

Rindu Meski Ia Tak Rindu,,

3 jam lagi,, mentari kembali ke peraduan indahnya. dan aku,, hanya bisa menunggu untuk menikmatinya. di tempat ini aku menenggelamkan kisah yang tak berujung.

ironi memang ketika aku harus menunggu dirimu terlalu absurd ketika cinta yang kumiliki hanya semu bagimu aku lelah namun tampaknya hatiku lebih lelah melihat tingkahmu

oohh neptunus,, penguasa segala lautan,, kubawa rindu ini kepadamu,, kan kutenggelamkan rinduku,, kutenggelamkan separuh hatiku,

agar tak berbekas, tak memiliki jejak, dan tak pernah kembali,,

karena rindu ini hanya aku yang punya, dirinya tidak

Friday, September 9

Ideologi CINTA


Cinta yang tak pernah habis untuk dibicarakan, entah berapa ribu bahkan jutaan kata-kata mutiara tentang cinta untuk diucapkan, direnungkan, dikhayalkan, namun belum tentu bisa direalisasikan. Entahlah, cinta memang aneh dan bisa diungkapkan dengan kata-kata mutiara cinta sesuai dengan situasi dan kondisi. Kumpulan kata-kata mutiara cinta dibawah ini mungkin bisa memberi inspirasi bagi anda untuk mengungkapkan betapa dalam cinta anda pada si dia.
Cinta sebenarnya tidak buta. Cinta adalah sesuatu yang murni, luhur dan diperlukan.
Yang buta adalah bila cinta itu menguasai dirimu tanpa suatu pertimbangan.
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak, bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka,
bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merasa rindu dan cemburu.
Cinta bukanlah dari kata-kata tetapi dari segumpal keinginan diberi pada hati yang memerlukan.
Tangisan juga bukanlah pengobat cinta karena ia tidak mengerti perjalanan hati nurani.
Kejarlah cita-cita sebelum cinta, apabila tercapainya cita-cita maka dengan sendirinya cinta itu akan hadir.
Cinta seringkali akan lari bila kita mencari, tetapi cinta jua seringkali dibiarkan pergi bila ia menghampiri.
Cinta pertama adalah kenangan, Cinta kedua adalah pelajaran, dan cinta yang seterusnya adalah satu keperluan
karena hidup tanpa cinta bagaikan masakan tanpa garam. Karena itu jagalah cinta yang dianugerahkan itu
sebaik-baiknya agar ia terus mekar dan wangi sepanjang musim.
Kecewa bercinta bukan berarti dunia sudah berakhir. Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu
yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu
sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa kekecewaan itu.
Hanya diperlukan waktu semenit untuk menafsir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan
sehari untuk mencintai seseorang, tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.
Hidup tanpa cinta sepeeti makanan tanpa garam. Oleh karena itu, kejarlah cinta seperti kau mengejar waktu dan apabila kau sudah mendapat cinta itu, jagalah ia seperti kau menjaga dirimu. Sesungguhnya cinta itu karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam sebuah percintaan, janganlah kamu sesali perpisahan tetapi sesalilah pertemuan.
Karena tanpa pertemua tidak akan ada perpisahan. Menikahlah dengan orang yang lebih mencintai diri kita
daripada kita mencintai diri orang itu. Itu lebih baik daripada menikahi orang yang kita cintai tetapi tidak menyintai
diri kita karena adalah lebih mudah mengubah pendirian diri sendiri daripada mengubah pendirian orang lain.
Cinta yang suci dapat dilihat dari pengorbanan seseorang, bukanlah dari pemberian semata.
Ibaratkalah kehilangan cinta itu seumpama hilangnya cincin permata di lautan luas yang tiada bertepi dan harus dilupakan.
Cinta tidak selalu bersama jodoh, tapi jodoh selalu bersama cinta.
Kata pujangga ; Cinta letaknya di hati, meskipun tersembunyi, namun getarannya jelas sekali. Ia mampu mempengaruhi fikiran sekaligus mengendalikan tindakan kita sehingga kadangkala kita melakukan hal terbodoh tanpa kita sadari.
Cinta dimulai dengan senyuman, tuumbuh dengan dekapan dan seringkali berakhir dengan air mata.

Monday, August 15

menatap Muhammad buhulan rindu
tiada lidah yang tak kelu
tiada zarrah yang tak lebur
tiada alam yang tak lenyap
tiada mentari yang tak malu
tiada bintang-bintang yang tak bergetar-getar menahan segenap kelipnya
merintih akulah geletar cahaya Muhammad
aaakulahh geletar cahaya Muhammad
aaakulahh geletar cahaya Muhammad
dan tiada pula awan yang tak berarak-arak menanti pertemuan dengan Mu,
duhai Muhammad …
Sajak Maulid Nabi, dimitri mahayana, 1994
Wajah Asmara
dalam Nuansa
Nyala di dada
Buhulan Cinta !
dimitri mahayana, 1 November 1994
Wajah Asmara, Dia adalah puncak kesempurnaan yang mengatasi seluruh batas-batas terjauh alam imajinasi. Dia adalah puncak keagungan yang melampaui seluruh kebesaran rajanya raja di raja, dalam dunia, alam dan jutaan dan milyaran bahkan trilyun….. alam-alam yang ada (al-‘alamiin). Dia adalah puncak keindahan yang melampaui seluruh keindahan bidadari pencabut sukma. Di adalah Sang Maha Anggrek yang terselubung dalam hari Guruku YM Sayyid Musa yang keindahannya semoga senantiasa dipancakan-Nya ke maya pada. Sebatang Anggrek yang terkulai jika tiada dikenali. Anggrek dengan sejuta wangi kesturi. Dia-lah Sang Maha Gravitasi dengan segenap Keindahannya, KeagunganNya , KeCantikannya, Kewangiannya. Maulana Rumi Guruku tercintan mengatakan tentang Ia, ohh betapa pedih lengkingan sebatang seruling. Mengapa duhai seruling yang tak tahu darimana aku harus menyandarkan punggung-punggungku kalau aku lelah. Aku rindu Bambu tempat asal muasal aku mengada. Suaraku adalah geletar lara keterpisahan. Dimanakah Ia, duhai Bambu? Dimanakah Ia, duhai Sari-Sari Pusaran Cintaku? Dimanakah Ia, Wahai Sang Maha Rupawan?
Wajah Asmara adalah permukaan luar dari Kekasih Abadi yang senantiasa rapat tertutup dalam tabir-tabir kegelapan ataupun tabir-tabir cahaya. Wajah Asmara adalah tujuan tajalliyyat (penampakan Keindahan dan Kesempurnaan Tuhan) yang menerpa para pecintaNya. Hujan tajalliyyat ini begitu deras menerpa, sehingga remuklah talang-talang hati, hancurlah saluran-saluran beton “ego”, hancurlah semua bangunan kokoh yang ada di hati. Hujan tajalliyyat yang mahaderas terus-menerus menerpa sehingga lenyaplah semua yang ada di hati, imajinasi maupun konsepsi tersapu oleh airbah mahadahsyat. Airbah yang tiap percik zarrahnya adalah Gambar-Gambar Wjaha Kekasih. Airbah yang tiap-tiap buihnya adalah Luapan Kerinduan Kekasih. Airbah yang kedahsyatannya adalah Kehendak Yang Maha Agung. “Tiada apapun di hati kecuali Ia, Tiada Yang Maujud kecuali Ia.”
Telah berkata Guruku YM. Mir Budi Trisakti tentang hadirnya Sang Wajah Asmara. “Manakala seorang raja besar datang memasuki suatu negeri dihancurkannya segala yang ada sehingga hanya ialah yang duduk di singgasana agung dan mengatur seagalanya dengan kebijaksanaannya.” Manakala Ia telah hadir di hati maka tiada lagi selain Ia, karena Ia telah menghancurkan semua yang ada di hati dan duduk di singgasana kerajaan MahaAgung di hati kita. Jadi betapa mudah melihat apakah Ia Ada di hati atau tidak? Sekiranya dalam detak-degup jantung kita masih terukir hasrat untuk memperoleh kekayaan sekian-sekian, atau kedudukan yang cukup atau wanita cantik, pasti Ia tiada di hati! Sekiranya dalam detak-detak kekhawatiran masing terungkap cemas-cemas akan nasib anak dan istri sekiranya jiwa ini dipanggilNya, pasti Ia tiada di hati! Sekiranya dalam lubuk hati masih terbersit harapan-harapan pujian orang tua, handai taulan ataupun masyarakat luas, pasti Ia tiada di hati! Sekiranya dalam lubuk hati masih terbesit rasa takut kalau daging dan tulang kita dijadikan bahan bakar neraka, pasti Ia tiada di hati, karena dalam hati tertancap dalam sesembahan selain Ia yaitu “aku” yang mahabusuk dan pangkal semua kebusukan. Sekiranya dalam lubuk hati tersimpan hasrat yang amat kuat untuk beribadah agar memperoleh bidadari-bidadari surga, pasti Ia tiada di hati, betapa kotornya memanjangkan hasrat-hasrat birahi kita ke Alam Suci!
Wajah Asmara artinya semua adalah wajah-Nya. Bila kita mencintai Rasul, Ahlul Bait, orangtua, istri, anak seperti kita bayangkan menikmati cahaya lilin yang telah dipantulkan melalui berbagai cermin atau prisma, itulah kekasihNya yang sejati! Selain Ia hanyalah bayangan. Selain Ia hanyalah citra. Selain Ia memperoleh keindahan, keagungan, kenikmatan, keanggunan, kebaikan dariNya. Ia-lah yang ada di balik segenap keindahan, di balik semua keagungan, di balik semua kenikmatan, di balik semua keanggunan, dn dibalik semua kebaikan dan kasih sayang. Ia-lah Semua Kesempurnaan dan Keindahan, dan tiada kesempurnaan dan keindahan apapun selain Ia. Saat hangat cahaya mentari menerpa, bukan cahaya itu memberikan hangatnya tapi Mentari. Semua keindahan adalah tahapan-tahapan pancaran emanasi Sang Maha Surya. Tapalah Sang Maha Surya, maka gelaplah segala yang ada, dan hanya Dia-lah Yang Ada. Sebagaimana yang telah diajarka oleh guruku Husein bin Mansur Al-hallaj melalui berbagai Mursyid mulia (semoga senantiasa dirahmatiNya). “Manakala engkau pandangi tinta, huruf akan menghilang. Makala engaki pandangi huruf, tinta akan menghilang.” Tanpa tinta hutuf itu tiada, tanpa tinta hanyala tergeletak seelai kertas putih kosong. Maka tataplah Rasul dan Ahlul Baitnya yang suci di pusat-pusat. Cahaya Sang Maha Surya, ibu-bapak di salah satu pusat-pusat. KeindahanNya yang langsung terpancar kepada jasad maupun ruh, surga sebagai sepercik pelangi di atas pelangi di alam mayapada yang terbias dari HasrtatNya untuk memberi karunia yang kekal pada selainnya, neraka sebagai perckan meteor Surya yang akan melimatkan semua keburukan. Neraka adalah kasih-Nya yang sejati sebagaimana surga adalah karunia-Nya yang abadi…, maka terucaplah untaian kata suci. “Sekiranya Engkau kuatkan aku untuk menahan AzabMu maka betapa mungkin aku kuat untuk berpisah denganMu, sekiranya Engkai tegarkan aku untuk menahan panasnya nerakaMu maka betapa mungkin aku mampu untuk tiada melihat KeagunganMu …..”. itulah rintihan PecintaNya yang paling sejati dan murni, Murid Agung dari Baginda Rasulullah (SAWW), Imam Ali bin Abi Thalib (kw).
Dalam Nuansa, Nuansa adalah udara-udara beserta segala cakrawala angkasa yang senantiasa menemani tanah lempung tiada arti ini. Membiru keindahan ufuknya, meluas kelapangan tatapannya. Sungguh hayat kehidupan kita tergantung pada elemen-elemen udara tak tampak ini. Tiada nafas tanpa udara. Walau tidak terlihat. Sebagimana disebutkan dalam sebuah lagu seorag Sufi besar Fariduddin Attar Naishapuri, yang kuburnya senantiasa mewangi,
“ Dar hawayat
Mi parayam
Mi parayam
Ruze syab.”
“ Dalam udaraMu
aku terbang
aku terbang
di suatu malam.”
Udara tidak nampak. Tapi kehidupan seluruh tubuh material kita tergantung padanya. dan tidak mungkin kita melepaskan diri darinya. Seandainya di sekeliling tidak ada udara, maka pasti tubuh-tubuh material ini kan segera kehilangan hari-hari kehidupannya.
Seperti itu pula-lah keadaan-Nya. Ia ghaib dari pandangan lahir. Tapi Ia melingkupi semua sebagaimana udara melingkupi tubuh ini. Ia meliputi malaikat setiap Wujud dan kehidupan (baca: keberadaan) setiap yang maujud tergantung pada keberadaan-Nya. Subhaanalladzii biyadihi malakutu kulli syai’in wa ilaihi turja’uun. Ketergantungan kehidupan (baca: keberadaan) setiap yang maujud terhadap keberadaanNya jauh lebih dari ketergantungan kehidupan tubuh material ini terhadap oksigen pada udara. Jauh sekali. Tidak bisa dibandingkan.
Dalam Nuansa. Hijau, kuning, ungu dan merah maupun berbagai warna-warna tajalliyyat, yang ada di hati, itulah sumber segala kesan. Tuhan, Tuhan, Tuhan dan Tuhan maupun Tuhan yang tercermin-cermin melalui berbagai mustika alam tujuh mengesankan kesejukan nan cerlang di nuansa-nuansa hati, Yaa, nuansa hati. Nuansa hati tiada lain sumber segala kesan dan geletar hati. Dalam juataan nuansa hati, hanya Ia yang Ada dan tiada selain Ia. Maha Suci Ia yang menggolakkan hati dalam nuansa Nama-Nama-Nya. Mukmin tergolak di antara Nama-Nama positif dan mukmin memandang nama negatif sebagai negatif. Sedang kafir tergolek dalam Nama-Nama negatif dan memandangnya sebagai positif
Nyala di dada. Bagaikan lensa-lensa dan cermin-cermin, akal dari perenung menangkap berbagai bayangan Wajah Asmara, yang tampak dalam segala nuansa. Kemana saja engkau menghadap, di situlah Wajah Allah. Bayangan terang, Bukan bayangan gelap. Bayangan maya, bukan bayangan nyata. Wajah Kekasih teramat cantik. Wajah Kekasih teramat lembut. Wajah Kekasih teramat terang. Benderang Sorot beribu, berjuta Cahaya Wajah Asmara terbias ke dalam loh-loh (lembar-lembar) hati nan bagaikan kertas ingin menangkap Seluruh Kesempurnaan Wajah itu. Namun seribu Wajah tergambarkan, sejuta Wajah pun datang menyorotkan seinarnya. Sejuta Wajah tercitrakan, milyard-milyard Wajah pun makin menyemarakkan citra-citra di hati. Ohh…, Ohh…, Ohh…, maka cahaya cahaya cahaya cahaya cahaya cahaya … tersebut menyalalah. Menyala terang menggambarkan himpunan citra-citra Wajah Kekasih yang bercampur dan bergolak dalam berbagai bentuk dan intensitasnya. Terbakarlah loh-loh lembara hati tiada mampu menahan hujan cahaya tajalliyyat tiada tara, sehingga lenyaplah satu demi satu ia ia yang lain selain Kekasih yang termaktub di hati. Api menyala degan terang. Dan Api nya pun merintih lirih
Aku akan membakar
Aku akan membakar
Aku akan membakar
Atau sirna……
Itulah watak nyala api yang ada di hati. Ia adalah Buhulan Cinta. Cinta pada satu Wajah Kekasih ditambah dengan Cinta pada Wajah Kekasih yang lain ditambah dengan Cinta pada Wajah Kekasih yang lain ………. Tiada terbayang intensitas Cahaya Wajah demi Wajah cahaya yang terkumpul pada Buhulan Cinta. Sampai di sini, sampailah sang salik pada satu maqam perjalanan ruhani yang disebut maqam al-mahabbah yang dilewati setelah semua selain ia melebur dengan sempurna karena terbakar oleh nyala api cinta yang ada di hati.
Hati yang dipenuhi dengan nyala cinta akan melihat berbagai bentuk (surah) Wajah-Wajah Kekasih yang semakin lama semakin menambah gairah cintahnya. Semakin lama semakin tindu. Semakin lama semakin dipenuhi oleh perihnya rindu. Semakin lama semakin Indah dan Cantik Wajah Kekasih. Semakin lama semakin jauh salik melangkah mendekati-Nya, semakin salik tiada tahu kapankah Ia akan sampai kepada Sang Kekasih Sejati?
Cinta menyuarakan gending-gending dan seruling
faqir merintih rindu sembari berkeliling
Cinta meniup lembut lembar-lembar mahkota bunga
faqir menjeritkan harapan ‘tuk bersua
Cinta menjanjikan kekasih yang dirindukan
faqir nanar menangis … menangis … dan menangis
Wahai Kekasih… Wahai Pupur dan Bedak Kesturi
Wahai Seribu Wajah Asmara!
Laksana semut, fawir merayapi gunung-gunung…
di kala angin musim dingin menerpa salju-salju
O…Ratih…kaki fawir membiru, kaku, tiada mampu bergerak
O…Ratih…di manakah dikau harus kucari
O…Ratih…telah kulewati Fuji nun jauh di timur dan ratusan selat-selat berakitkan bambu
O…Ratih…kau tiadalah ada di satu kota-kota cinta
O…Ratih…hanyalah aroma wewangian asli yang kudapat ataulah gambar-gambar berpigura di pasar-pasar burung
Labuan hatiku yang tersembunyi…Latifah Ratih
Harapan rasaku yang tiada terjangkau…’Aliyyah Ratih
Pujaan nurani yang maha agung…’Azhiimah Ratih
Piala-piala anggur cinta…Waduudah Ratih
Kecantikan tiada tara tiada terbayang…Jamiilah Ratih
Raup-raup kesempurnaan kasih mesra…Rahiimah Ratih
Rahmat tiada terbatas bagai samudra…Rahmaniyyah Ratih
Puja dan puji yang sempurna….
Dimitri Mahayana, Hud-Hud Rahmaniyyah, Syair ke-16
Maka dikatakan, orang-orang mukmin amat sangat Cintanya kepada Allah. Cinta yang sejati dan murni Jauh dari seluruh khayal-khayal syahwati. Cinta yang sangat. Yang bertambah sangat dari hari ke hari. Seperti yang dikatakan di sebuah lagu
Tomorrow, I ‘ll love You twice more
Segera setelah balik mencapai maqam al-mahabbah, Wajah demi Wajah Kekasih yang telah bergolak dalam nyala menariknya ke dalam pusaran gravitasi Cinta Ilahi…, sehingga menghasilkan kerinduan mahadahsyat pada Yang Tunggal Tiada Tara. Salik akan memasuki suatu “Domain of Attraction”, daerah di mana dirinya akan menjadi butiran-butiran mazhar (manifestasi) yang melingkar-lingkar mendekat dan semakin mendekat pada Sang Maha Tunggal Tiada Banding. Tak mungkin lagi salik menatapkan wajahnya selain padaNya. Suatu kesetiaan tauhid tiada banding! Bukankah Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin As-Sajjad (a.s) telah bermunajat dalam Munajat Al-Muhibbiin;
“Ilaahi
mandzalladzii dzaaqa halaawata mahabbatik
faraama minka badalaa
waman dzalladzii anisa biqurbik
fabtaghaa ‘anka hiwalaa.”
“Ilaahi,
Apakah orang yang t’lah mencicipi manisnya cinta-Mu
akan menginginkan pengganti selain-Mu
Apakah orang yang t’lah bersanding di samping-Mu
akan mencari penukar selain-Mu.”
Dalam perjumpaan pertama Shamsuddin dari Tabriz dengan Maulana Rumi, Sang Matahari dari Tabriz menjelaskan, “Cinta adalah suatu penyakit, yang orang dihingapinya tidak pernah ingin disembuhkan.” Ya, Cinta kepada Tuhan itu perih, Kenapa? Perih karena rindu yang selalu menyayat, sedang Kekasih Sejati tiada terjangkau. Rindu yang makin menyayat. Karena semakin dekat sang pecinta tertarik mendekati Kekasih Sejati, semkain sadar sang pecinta ketakterjangkauan Kekasih dari haribannya. Maka ‘Arif besar abad ini, Ayatullah Al-‘Uzhma Sayyid Ruhullah Al-Musawi Khomeini telah bersyair;
“Asyiwam, Asyiqam
Marizh tu am
Ze in maraz
Ma dawa nami khoham.”
“Kasihku, duhai Kasihku
Aku sakit, karena-Mu
Dan akan sakitku ini,
ku tak ingin sembuh.”
Satu lagi pertanda agung dari maqam al-mahabbah ini adalah kemabukan. Betapa tidak? Nyala api Cinta nan terus bergolak menggambarkan Milyunan Kecantikan demi Kecantikan Yang Maha Cantik. Mulut terbelalak. Mata terpana. Syaraf-syaraf keindahan dan lokus-lokus wadah yang memahami keindahan dalam hati tiada mampu menyaksikan ini semua. Syaraf-syaraf pun rusak, Air Bah Kecantikan Wajah-Wajah Kekasih tertumpah dari wadah-wadah penerima keindahan, meyerang segenap syaraf. Kecantikan Wajah-Nya menyerbu seluruh indera-indera lahir dan batin. Maha Salik pun mabuk, terhuyung-huyung tak tahu arah tak tahu mata angin. Tak tahu di mana, ke mana, dan mau ke mana. Doyong kekiri tubuhnya dalam pelukan-Nya. Doyong ke kanan tubuhnya menggapai Bedak-Nya. Bukankah YM. Guruku tercinta Maulana Rumi telah merintihkan rintihan ini?
Pernah kaulihat pecinta yang demikian kepayang akan birahi ini? Pernah kaulihat ikan yang demikian mabuk pada lautan ini?
Pernah kaulihat wayang yang minggat dari pengukirnya? Pernah kaulihat. Wamiz bertobat pada Adhra?
Waktu berpisah, pecinta bagai nama tanpa makna; namun sebuah makna seperti kekasih tak perlu nama lagi.
Kau luat, aku ikannya-genggam aku menurut maumu; beri aku tujuan, tunjukkan wibawa raja tanpa kau aku akan terlunta-lunta.
Raja perkasa, apa yang kurang dari penunjuk jalan ini? Karena kau tiada, api menjulang tinggi.
Jika api melihatmu, ia pasti menyingkir; karena itu siapa saja yang memetik mawar dari unggun api, api akan memberi mawar yang indah mempesona
Tanpa kau dunia adalah siksaan bagiku, mungkin ia akan sirna bila ku tiada; demi hidup kumohon ini, tanpa kau hidup adalah aniaya dan derita bagiku.
Bayang-bayangmu bagaikan seorang sultan yang sedang tamasya dalam hatiku, malahan bagaikan Sulaiman ketika berjalan menuju mesjid Al-Aqsa di Yerusalem.
Ribuan lentera menyala, tabir segala mesjid tersingkap; surga dan Telaga Kautsar dikelilingi Ridwan dan bidadari-bidadari.
Terpujilah Tuhan, Terpujilah Tuhan! Di Surga ribuan bulan bersinar terang. Rumah suci ini pun di huni malaikat dan bidadari-bidadari, hanya mereka tersembuyi dari mata si buta.
Burung molek dan bahagia itulah yang bersemayam dalam cinta! Siapa bisa mencapai puncak gunung Qaf kecuali burung ‘Anqa?
Molek si ‘Anqa mulia, maharaja Shamsi Tabriz! Ialah Matahari yang tak berasal dari Barat ataupun Timur, tak dari mana pun.
Nyala api Cinta Ilahi bergolak, membiaskan berbagai Wajah demi Wajah keindahan. Salik menatap Keindahan demi Keindahan Kekasih. Salik menatap Keanggunan dan Haibah Tuhan. Tiap saat dan tiap waktu. Hati salik-pun menangkap realitas segala peristiwa. Hati salik-pun memahami Makna Keindahan di balik segala peristiwa. Semua makna yang ada di hati salik sebelum mencapai maqam al-mahabbah akan dimaknakan ulang setelahnya. Tiada lagi kesedihan kecuali menjadi kebahagiaan. Tiada lagi kesulitan kecuali menjadi kenikmatan. Semua hal berubah substansi-nya, dengan sebenar-benar perubahan. Sebagaimana dilantukan oleh Maulana Rumi;
Karena cinta pahit berubah menjadi manis,
karena cinta tembaga berubah menjadi emas.
Karena cinta ampas berubah jadi sari murni,
karena cinta pedih menjadi obat.
Karena cinta kematian berubah jadi kehidupan,
karena cinta raja berubah menjadi hamba.
Jalaluddin Rumi
Lenyaplah berbagai dualisme-dualisme di hadapan sang salik. Tiada lagi pahit dan manis, semuanya manis. Tiada lagi tembaga dan emas, semuanya emas. Tiada lagi pedih melainkan ia adalah obat. Hilangnya dualisme-dualisme ini memasukkan salik kedalam alam monisme, alam kesatuan, alam ketunggalan, yang merupakan negasi dari alam al-katsrah atau alam kejamakan. Salik mulai akan masuk ke dalam daerah ketertarikan (domain of attraction) dari Tuhan Yang Tunggal Tiada Tara, yang di dalam daerah ini, salik akan memulai perjalanan barunya kembali menuju maqam-maqam berikutnya yang tiada terhitung banyaknya. Jauh, jauh sekali. Betapa sedikitnya bekal dan betapa jauhnya perjalanan. O..betapa jauhnya perjalanan dalam alam para muhibbiin ini…
Dan segala puji hanyalah bagi-Nya,
aku berlindung pada-Nya dari semua ke-iblisan diriku,
tiada daya upaya kecuali hanya dari-Nya selalu,
Wallahu a’alm bish-showab
“Karena cinta pahit berubah menjadi manis,
karena cinta tembaga berubah jadi emas.
Karena cinta ampas berubah jadi sari murni,
karena cinta pedih menjadi obat
Karena cinta kematian berubah jadi kehidupan,
karena cinta raja berubah jadi hamba”
Yaa, Cinta merupakan kekuatan mahadahsyat yang siap meremukkan segala sesuatu selain Kekasih. Ia adalah sari segala gerak dan harmoni semesta. Semesta yang berputar-putar dalam tarikan pusaran Sang MahaGravitasi, Pusat-Pusat Cinta segenap makhluk. Cinta adalah salah satu rahasia-rahasia dari Dzat-Nya. Apakah Cinta itu? Tiada kata, tiada pena, tiada ungkapan, tiada lirik apapun yang bisa menggambarkan Apakah Cinta. Hanyalah seperti asap-asap yang terbang menghilang dalam taufan, kata hanyalah mampu mengungkapkan satu sisi-sisi kecil dari keagungannya.
Tentang Cinta Ilahi, Sang Maha Surya, telah berkata Guruku YM Sayyid Musa Al-Kadzim Al-Habsyi bahwa telah bersyair Imam Khomeini,
“Asyiwam, Asyiqam
maridh tu am
ze in maraz
ma dawa nami khoham.”
“Kasihku, duhai Kasihku
Aku Sakit, karena-Mu
Dan akan Sakitku ini,
ku tak ingin sembuh.”
Cinta adalah Sakit dan Perih. Tapi PeCinta tak ingin sembuh dari Sakitnya. Sakit karena Rindu akan Kekasih nan tak kunjung tiba. Sakit karena Api Hasrat akan perjumpaan dan pertemuan dengan Kekasih. Sakit karena Kekasih demikian Mulia, Agung, Suci, Tinggi, Maharani, Mahaanggun, Maha …., tiadalah pantar al-faqir menyentuh batas-batas terluar yang paling jauh dari Hadhirat Kekasih.
Tentang Cinta kepada Nabi Muhammad, Rembulan Asmara, Cermin Kesempurnaan Tuha, Makhluq Yang Paling Smepurna, al-faqir yang dhoif ini bersyair;
menatap Muhammad buhulan rindu
tiada lidah yang tak kelu
tiada zarrah yang tak lebur
tiada alam yang tak lenyap
tiada mentari yang tak malu
tiada bintang-bintang yang tak bergetar-getar menahan segenap kelipnya
merintih akulah geletar cahaya Muhammad
aaakulahh geletar cahaya Muhammad
aaakulahh geletar cahaya Muhammad
dan tiada pula awan yang tak berarak-arak menanti pertemuan dengan Mu,
duhai Muhammad …
Cinta kepada Nabi Muhammad (SAWW) adalah identik dengan Cinta kepada Tuhan. Karena Muhammad (SAWW) adalah Kekasih Tuhan. Apa yang dicintai Muhammad (SAWW) dicintai oleh Tuhan. Apa yang dimurkai Muhammad (SAWW), dimurkai oleh oleh Tuhan. Nabi berakhlaq sempurna, berjiwa amat mulia, berwajah paling indah dan tampan. Tiada-lah satu percik zarrah apa pun dalam lahir dan batin Nabi, maupun dalam tujuh lapisan alam dalam semesta Nabi melainkan dipenuhi dengan segenap Keindahan, Keagungan dan Ridho Tuhan. Mukmin adalah orang yang mencintai Nabi lebih dari mencintai dirinya sendiri, dan mencintai Keluarga Nabi lebih dari mencintai keluarganya sendiri. Sholawat sejahtera atasNya selalu.
Di dunia ini, tiada mungkin kita bertemu dengan Kekasih Sejati, Sang Maha Surya, Tuhan Yang Maha Agung. Tiada pula mungkin kita bertemu dengan Rembulan Asmara, buhulan cinta para Wali dan hamba yang taat, Muhammad (SAWW). Tapi bagi hamba yang dikaruniai penglihatan indah, tiada lain segenap zarrah di semesta adalah biasan-biasan Rahmat dan Sentuhan Kekasih Yang Maha Agung. Di antara zarrah-zarrah tersebut, ada lokus-lokus Cinta yang paling terang, adalah Kasih Orang Tua dan Cinta maupun Birahi antara Laki-Laki dan Wanita. Al-faqir menyebut lokus-lokus ini sebagai Lilin-Lilin Kecil. Manakala aku menatapi lilin-lilin kecil ini aku teringat akan Cahaya Sang Maha Surya, Manakala aku menikmati keindahannya, aku teringat akan biasan-biasan Cahaya Sang Maha Surya. Suami/Istri adalah ladang-ladang kasih, ladang-ladang asmara, tempat al-faqir menanam benih-benih Cinta, dan melatih untuk merasakan pedih sekitnya Cinta. Ladang-ladang kenikmatan maupun pengorbanan, pertemuan maupun kerinduan.
sepercik terang lilin dalam kelam,
saat tiada Surya maupun Rembulan
melepas setitik rindu dan dahaga
akan Kekasih Sang Maha Agung, Sang Maha Surya
dan Rembulan MahaCantik, MahaIndah, Muhammad
Menatap lilin-lilin kecil adalah Kehangatan. Mengurangi Silau-Silau jika kita langsung menatap Surya. Menatap lilin-lilin kecil adalah Kenangan. Mengenang Kekasih Mahacantik Mahaanggun Mahamesra, Alla ‘Azza wa Jalla dan Cerminannya Yang Azali, Muhammad (SAWW).
Aku pun mabuk dalam hangat cahaya lilin-lilin kecil
merah kekuningan nan bergoyang lamban bak taburan manik-manik asmara
menggerakkan jutaan nuansa bayangan dan bintang-bintang pemabuk
Tiada sadar, tiada keluh, tiada kesah, tiada desah,
tiada detak-detak hati,
tiada pula awan beranak mendung
Jernih, Bening kutatap nuansa yang bergoyang dalam Lautan Tajalli
Aku pun mabuk dalam nuansa tarian lilin-lilin Tajalli,
Lilin-Lilin merasuk bak Anggur
Lilin-Lilin Yang Indah bak Lailah
Lilin-Lilin menari bak Zakiyah
Lilin-Lilin menangis gembira
Lilin-Lilin melengking merdu
Lilin-Lilin Asmara
Puncak Kemabukan Orang-Orang Tuhan
Lilin-Lilin nan tiada membuat dahaga
tapi membakar kerongkongan Perindu Tuhan
tetes demi tetes Cairan Putih Suci terbakar dalam Api Cinta
Cairan Yang memabukkan, itu lah aku
aku demi aku yang kepayang
menetes lenyap dalam kegelapan malam
lebur dalam keindahan Api, Gincu-Gincu Kekasih nan merona merah
aku demi aku keram dalam ketiadaan
menatapi Tajalli demi Tajalli,
Keindahan Api lilin nan merona merah kekuningan, Rona-Rona Kekasih bertahtakan manik munri keemasan,
Ooo, aku telah mabuk dan Terbakar
Ooo, aku telah mabuk dan Terbakar,
Sirna dalam Fana
Ooo, Sang Mahafana, mahafana, mahafana,…
dengan AsmaNya Yang Maha Tinggi
Dia memandang, aku tersipu
Aku memandang, Ia pun tersipu
memalu dengan pipiNya Yang Memerah Jambu
O…, Duhai Ia Yang Mahamalu dalam Puncak Keanggunannya
Kusentuh lentik bulumataNya,
Ia belai rambutku terberai,
Airmata dalam senyuman
Dengan sejuta makna dan cita
Citra itu memancaran Hujan pelangi di alam mimpi,
dalam alunan “bulan madu di atas awan”
dan jutaan zarrah langit nan senantiasa membiru,
dalam kelapangannya aku bercumbu dengan mesra,
Sedang Kekasih Nan MahaCantik memamerkan merah
rona pipiNya, dengan Wangi-Wangi azali yang,
meleburkan segenap zarrah dan mengguncang
Aku pun duduk bertelekan Awan-Awan putih nan menyelimuti ku dari segenap tatapan dunia
maupun menyembuyikan aku dari khayalan hasrat-hasrat yang tertidur di alam mimpi,
Segelas Anggur nan kuteguk, Anggur tetes airmata kerinduan Kekasih,
Arak Kesturi tiada banding,
Kureguk cukup satu tegukan, dan Mabukpun menjalar ke segala bagian-bagian terlembut dari jiwaku,
Bak keledai lupa akan kepalanya aku terjerembab dalam lorong-lorong pusaran Cinta mahadahsyat,
Di tiap relung kutemui Berjuta Wajah Kekasih Rupawan,
menyanyikan lagu cinta dan dahaga,
dan dahaga,
Dalam setiap tetes kedahagaannya terdapat Samudera,
Yang menyegarkan jutaan kedahagaan baru…
Ohh, Ohh, Ohh, jangan begitu Duhai Kekasih, …
Ohh, Ohh, Ohh, janganlah malu Duhai Kekasih, …
Seiring serunai jagung menyiulkan lara keterpisahan, …
Serentak aku memasuki jutaan persatuan, yang masing-masingnya menyantikan ribuan nyanyi perpisahan baru, …
Sejengkal saja dari mata tapi ada jutaan, milyaran, trilyunan, trilyun-trilyun…, tak hingga titik yang harus dilalui, Dan tiap titiknya mengandung rahasia-rahasia Wajah Kekasih nan rupawan,…
Ohh, Ohh, Ohh, Nur melesat kembali ke asal tempat segala bermuara,
Ohh, Ohh, Ohh, kutatapi Ceralng Wajah Muhammad buhulan Asmara, melalui NurNya, Nut itu, Nur itu, Nur itu,
Betapa mungkin ini kutuliskan, Tanpa Pancungan KekasihKu, Yang Maha Agung…?
Duhai nuansa, awan dan segala dahaga yang tersimpan dalam hujan-hujan Tajalli …
Duhai hati, rasa dan segenap Cinta yang tersembunyi rapat dalam tiap cinta-cinta …
Duhai kekasih, dan segala WajahMu yang Engkau sembunyikan dalam tarabir tarabir tiada terhingga ……..
Darah pun tertumpah
Dari percik-percik darah Al-hallaj,
Melarik ke awan dan langit yang biru
Laa ilaaha Illa Allah,
yang asli tanpa cela, tanpa ragu, terang benderang dalam naungan bendera Asmara,
Mengguncang sungai
Laa ilaaha Illa Allah,
yang mengalirkan semua air dari hulu ke muara,
yang mengalirkan Semua dalam Jalan, Tao, yang benar
Mengguncang segala,
Laa ilaaha Illa Allah
yang senantiasa memancar dalam iluminasi segala,
Iluminasi wujud azali, tiap saat, tiap waktu, tiap percik, tiap ruang, dan tiap segala yang tak bisa diungkapkan dalam waktu ataupun ruang ……
Diam dalam Ketunggaln Tiada Taranya,
Laa ilaaha Illa Allah
nan hanya diketahui olehNya dalam tahap pertama setelah kegaibanNya terhadap diriNya sendiri, Akal Segala, Akal Mahasempurna, Muhammadar Rasulullah,
Syahadat sempurna………
Tertuliskan dengan Laa merah muncrat dari hati,
Dan bertahtakan lengkap syahadar memerah sukma,
Darahpun menetes menuliskan Saksi demi saksi KetunggalanNya……, Syahid Husein bi Mansur Al-Hallaj,…..,

Saturday, August 13


Wahai Sang Pemilik Cinta..
Bila ada waktu ini tersisa
Bila masih ada sedikit ruang tuk meminta
Ijinkan hamba berserah
Ijinkan hamba memohon cinta
Wahai Sang Pemilik Cinta..
Bila ada sebentuk rindu yang tercurah
Bila masih ada hati untuk hamba singgahi
Ijinkan hamba menyentuhnya
Ijinkan hamba memeluknya..
Ya Allah..
Lihatlah tangan hambamu yang menengadah
Mengharap agar Engkau tak enggan menyatukan hati kami
Berserah dalam naungan ridha-Mu
Berjalan dalam jejak yang Kau terangi bagi kami
Ya Allah..
Sisakan sedetik waktu untuk hamba
Tuk melihat mekarnya kuncup mimpi dalam taman hati
Jangan Engkau berpaling dari cinta ini
Jangan Engkau acuhkan perasaan rinduku pada bidadari-Mu..
Ya Allah..
Jagalah kembang tidurku
Jangan biarkan dia terkulai layu
Terhantam dera dunia
Terhanyut dalam indah semu sementara
Ya Allah..
Jika tiada tersisa waktuku bersamanya
Pertemukan kami dalam raudlah-Mu yang sempurna
Teduhkan kami dalam satu naungan di sudut mahsyar
Bersama para kekasih-kekasih-Mu yang telah terjamin di surga…
Amin….

MOZAIK HATI


  • Kamu boleh kehilangan keyakinan terhadap apapun, tetapi jangan terhadap hatimu sendiri.
  • Hatimu takkan berbohong padamu, kecuali kau yg berbohong pada dirimu sendiri.
  • Keteguhan hatimu membuatmu semakin yakin, dan sebaliknya, keyakinanmu memperteguh hatimu.
  • Kita punya mata untuk melihat senyuman seseorang, tetapi hati kita yg melihat maknanya.
  • Jangan tanyakan kakimu apakah masih kuat berjalan, tapi tanyakan hatimu sudah sampai dimana ia sekarang.
  • Paling tidak sekali dalam hidupmu, kau harus membuka hati untuk hati yg lain. Dan tanyakan apakah ia hanya singgah atau untuk tetap tinggal.
  • Bukan tentang seberapa banyak hati yg telah kau taklukkan, tetapi seberapa besar hati yg kau berikan.
  • Ruang hatimu bisa menjadi tempat teduh bagi banyak hati lainnya, tapi hanya muat untuk satu hati, yg tinggal disana selamanya.

Saturday, July 30

Kala Sepi Menyelimuti Diri Dan Duka Memeluk Jiwa

di sini.....
kusaksikan setiap pergantian
surya tenggelam mengundang rembulan
sahutan ayam memanggil mentari
telah mengambil bagian diri

Adakalahnya kita merasa sepi. Suasana ramai di sekeliling kita tak sanggup mengusir kesendirian. Kata-kata yang mengalir dari mulut-mulut orang yang mencintai kita tak sanggup memacu semangat jiwa. Ajakan mereka untuk bergembira dan mengisi hidup yang cuma sekali ini dengan kebaikan tak mampu untuk memotivasi diri. Hiburan yang mereka berikan tak kuasa menghapus kepedihan yang dirasa. Benar-benar sepi dan sendiri. Jika demikian adanya, kebanyakan manusia akan memilih mati. Karena fitrah manusia sebagai makhluk sosial adalah selalu berdampingan dengan manusia lain, baik secara fisik maupun jiwa. Kesendirian kadang diperlukan, tapi bukan untuk selamanya.

di sini.....
kumengenang hari-hari nan lalu
yang menyelimuti waktuku
membawaku dalam kebekuan
di dunia lamunan

Adakalanya sebuah kesendirian dan kesepian begitu mencekam, sehingga segala persediaan energi yang kita punya akan langsung habis. Tinggal rasa lelah yang tersisa. Tak ada aktivitas yang dapat dijalani. Tak ada produktifitas amal yang dihasilkan. Dunia terasa sangat kejam. Sementara diri hanya bisa mengeluh betapa malangnya nasib yang harus dijalani.

Egois!

Mungkin itu yang pantas diucapkan untuk diri kita yang merasa bahwa kita adalah orang yang paling sengsara di dunia. Padahal di sekeliling kita masih banyak orang-orang yang sudah lama menderita dan beban hidup yang mereka pikul bisa jadi lebih berat daripada yang kita miliki. Memang, ujian untk setiap orang beda-beda. Sang Penguji pun sudah tahu kapasitas masing-masing peserta. Jika itu yang kita yakini, seharusnya kita bisa lepas dari belenggu sepi dan duka. Jika hal itu yang kita pahami, sepantasnya kita tak pernah menyesali hidup ini dan berputus asa.

di sini.....
kusaksikan taman mulai berbunga
kuntum-kuntumnya mekar menebar aroma
pepohonannya mulai rindang
berbuah di setiap cabang

Jika mereka bisa bangkit, kenapa diri ini tidak bisa? Padahal mereka sama seperti kita, punya kelebihan dan kekurangan. Jangan jadikan kelebihan mereka menjadi duri pelemah diri, tapi sebaliknya, jadikan hal itu sebagai pupuk penyubur kekuatan jiwa. Harapan, itu harus ada. Manusia tak kan bisa hidup jika tidak ada harapan dalam dirinya. Semangat harus tumbuh, agar diri bisa mewujudkan harapan tersebut menjadi kenyataan.

Satu yang pasti. Orang yang beriman tidak pernah berada dalam kesendirian. Di tengah keheningan duka, di antara hiruk pikuk suka, ada yang selalu mengawasi. Ada Allah menyertai setiap langkah perjalanan hidup kita. Di saat kita berada dalam ketidakberdayaan, Allah adalah Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Di tengah tumpukan permasalahan, Allah adalah Maha Penolong dengan berbagai jalan keluar dan solusi. Di antara himpitan kemiskinan, Allah adalah Maha Kaya.

Sebagai seorang mukmin, kita tak pernah sendiri!

Ada keluarga, ada tetangga, ada kerabat dan sahabat, ada teman dan kawan. Mereka ada di sekeliling kita. Bukankah mereka yang satu aqidah dengan kita berarti saudara kita. Bisa jadi pertolongan Allah akan melalui tangan-tangan mereka. Rajut kembali tali ukhuwah karena bisa jadi itu menjadi sumber kekuatan. Apa yang berat dipikul sendiri, akan terasa ringan saat ditanggung bersama.
Tidur cintaku..tidurlah tenang.

Ingin kubisikkan ke mimpimu, kisah dari seserpih waktu, tentang sebuah dusun yang dijiwai puisi sesuntuk hari.

Tidur, ya, tidur. Bayangkan dirimu berbaring telentang di tanah lapang, di atas rerumputan, tengadah kepada bintang-bintang.

Pandanglah seksama serakan merjan nun jauh di angkasa kelam, tatap dan jangan dulu mengerjap, biarkan serbuk cahayanya mengendap di genangan malam, mengendap ke matamu yang menyimpan kilau danau berpalung dalam, lalu katupkan pelupukmu perlahan. Biarkan bencah-bencah cahaya itu melindap bagai kenangan, meresap ke serat-serat sanubari dan bemerkahan sebagai kelopak mimpi.

Suatu waktu nanti, ketika aku dan kau sudah tak ada lagi, kisah yang kusampaikan padamu ini akan tinggal abadi.

Gemanya akan terus ditimang angkasa yang tenang, lalu kata demi kata akan turun dalam setiap pundi embun, disaring halimun, diserapkan ke daun-daun, ke batang-batang pepohonan, ke akar-akar, ke tanah ke batu-batu, dan terajut pada setiap helai lumut.

Dan manakala kisaran sang waktu sampai di satu noktah, di mana bertemu awal dan akhir langkah, kisah ini akan bersemi kembali, kelak ditemu anak cucu dalam bentuknya yang baru. Dan akan selalu begitu, Cintaku.

Selalu…
Begitu cintamu tiada,aku terus berlari.Menghapus adamu d jiwaku. Mengusir segala rindu yg tak juga mati, lalu membunuh cinta yg kuyakini
Siapa yg tidak bersedih dan kecewa ketika harapan tidak sesuai kenyataan.Harapan unt selamanya berada dalam cintamu.Ternyata cuma mimpi saja
Duka telah menjelma nestapa. Berkubang nelangsa d ayun luka.Tangis ini karena cinta yg tersia sia.Tangis ini karenamu juga.
Pada siapa aku mesti mencari sandaran unt luka cinta? Aku tak kuasa lg menanggungnya.Hanya titik,hanya kosong.aku telah jatuh tanpa daya
Hatiku telah kututup. Mungkin hanya keajaiban Tuhan yg bisa membukanya kembali.Luka cintamu membuat jiwaku seperti mati
Setelah cintamu pergi,aku seperti terpukau dmamah negri sepi.Terbuang ke tepi.Lalu aku sendiri lg
Segalanya tak pernah nyata.Cintamu yg keburu telah hlang dr singgasananya. Selain kecewa, tak ada lg yg tersisa.
Meskipun cintamu tak lg milikku.,tp tetap saja aku kukuh percya,kamu akan kembli padaku lg d suatu hr
Setelah cintamu pergi,hanya ada jerat penantian yg mengerang,meregang,dan mengerontang d sudut dadaku yg terluka.
Aku telah memilhmu pada tatapan pertama,kamu telah meninggalkan aku pada tatapan kedua.
kini,tak ada lg hasrat unt tetap berada dalam naungan rindumu.Cintamu telah jauh dr rengkuhan tanganku
Bersama krh stia, aku menunggu hadirmu.Tapi justru luka yg kamu berikan.Mengapa tega? Kau beri aku harapan lalu kau buang aku keselokan
Berahir sudah.Kita memilih jalan cinta masing masing.Mungkin ini yg terbaik untku dan kamu
Aku msh setia mengulur benang cinta yg kupintal dari serpihan asa tersisa.Sayang kamu telah mencampakkan cintaku
Aku bangun cintaku d padang gerah berkubang butiran peluh.Mengurah waras yg deras luruh kepadamu.Tapi kini semua berahir sudah.Cintaku telah kau bunuh dari akarnya
Semua telah berahir.Karena risalah rinduku ini tak lg terus mengais ceritamu.Aku sendiri lg karena kau telah berlari meninggalkanku
.Aku tak pernah bisa mencampakkan cinta yg tak pernah kau miliki. Aku mencintaimu tp kau belum memiliki cintaku
Harapan agar kau memiliki cintaku,ternyata tak pernah nyata. Cintamu semu seperti janjimu yg palsu.
Apa yg mesti aku pertahankan sementara aku tak punya apa apa lg selain cinta satu satunya yg telah kau khianati. Mungkin sebaiknya aku sendiri
Ternyata,selama ini aku salah.Alamat rumah hatimu tak bisa kutemukan.Aku telah salah memilih cintamu Aku memilih pergi
Disetiap wakt,aku pasrah menunggu hadirmu tanpa ragu dan tanya lagi.Tapi apa yg kudapat? Kamu telah menyiakan akan perasaanku.Lebih baik, aku pergi
Telah kuhunus semua rindu dan cintamu untk bngkit lg,dalam barisan doa doa dan puja puji.Tapi luka cinta yg kau berikan telalu dalam,hingga aku tak berdaya lagi
Sekali aku coba lari dan mengingkari,tapi seribu kali aku sakit hati oleh cintamu yg tak pernah nyata
Tak hilang dlalap lelah,tak jera d remas gelisah aku rebah pada cintamu dan kau buat aku pilu dngan kepergianmu
Kau buat aku termangu dan terus merapal jejak cinta untk hatimu.Tapi semua siasia begt kutahu kau telah mendua
Aku memang harus pergi saat kusadar tak ada lagi yg perlu aku bela dari perjalanan cintaku
Untuk apa aku bersikukuh mencintai orang yg tak mungkin membalas cintaku.Seperti cintamu yg datang dan pergi menyisakan kecewa dan luka
kemana hujan pergi hari ini?Sejenak menggoda bumi pd siang yg gerah lalu hilang saat malam tengadah.Seperti cintamu yg datang lalu pergi begitu saja