Monday, October 11

Sayang… Mari berbicara lagi tentang pelangi, yang datang setelah badai menggenapi, dari bias-bias ujung matahari dan sisa-sisa hujan yang baru datang tadi. Lekukan indah tempat ratusan bidadari menjuntai kaki, mengirimkan ribuan spektra surga ke muka bumi.
Dan kita, dua wajah yang menengadah. Mencari-cari di sela ribuan warnanya, cinta yang pernah kita titip di udara. Diantara keping-keping langit dan segala rahasia semesta. Berharap dia telah sampai ke pelangi itu, bercanda dengan bidadari bersayap biru.
Tapi aku tak mau berlelah-lelah, Cinta. Memandang jauh ke angkasa, sementara pelangi itu tak mungkin terjangkau raga. Karena cukup dengan disini, dimuka bumi ini, dengan gravitasi sebagai pengikat hingga kaki kita tegak menapak.
Kutemukan kau dengan hitam putih mu. Kanvas nyata tentang rasa yang tak harus dilukis sempurna, tinggal mencampurnya semau kita, dengan biru dan merah merona atau mungkin menambah sedikit hitam seperti jelaga. Terserah saja. Jadi tak perlulah warna seperti pelangi. Karena kita akan memolesnya bersama-sama nanti….
*****
NB: Jika saat ini kau sedang memandang hujan yang jatuh dari langit, ingatlah dimanapun tempatmu berada, kita tetap memandang langit yang sama…
Post a Comment